Selasa, 30 November 2010

Angan

mengenang masa itu membuat ku tersenyum
aku tau ini bukan akhir dari segalanya
banyak hal yang ingin kulakukan agar saat itu bisa terulang lagi
10 menit itu merupakan hal terindah setelah 10 tahun lalu


senyum itu masih sama
tatapan itu pun sama
tidak ada yang berubah
selain saat ketika kita begitu dekat


akan kutunggu waktu
dimana kita bisa seperti dulu
meneruskan kembali cerita kita
dan berbagi kepada dunia

Hitam

Kurang lebih seperti biasa aku selalu tertidur disaat malam ditelan sang matahari...lebih banyak waktu siang kulalui bersama mimpi dan hayalan penghantar tidur.

Ini bukanlah yang hendak aku cari, karena sungguh aku sangat merugi.

Banyak hal indah yang aku lewatkan,dikala udara terasa sejuk,disaat matahari memberikan manfaat,dunia mulai bersuara dan orang-orang berbaris mengambil perannya...

Tatkala aku bangun,matahari sudah berada diseperempat mata dan siang ku pun segera sirna.

Hal ini mungkin sudah seribu kali berkutat diotakku,tapi belum bisa merubah segalanya,mungkinkah malam memang duniaku dan siang dunia mereka...

Senin, 29 November 2010

Kos atau Rumah Hantu

Dari sebuah rumah kecil inilah berawal sebuah kisah klasik menuju masa depan,rumah kecil yang berpenghuni sembilan orang yang berasal dari daerah yang berbeda-beda.sembilan orang penghuni ini diantaranya adalah Anto Abadi,Iman Boncu,Hafiz,Hariie,Andrew,Agung tumben,Mr,freak,Tuan Satpam dan Adi.

PART I
Anto dan Tatto

Anto adalah seorang pengembara yang mencari ilmu sama seperti yang lainnya,anto merupakan penghuni baru dikos atau rumah hantu,anto berasal dari bima yang merupakan daerah ditimur Indonesia.

Mungkin bagi anto kepulau seberang mencari ilmu adalah cita-cita yang diidamkan sedari kecil dulu dan cita-cita itu benar-benar terwujud...Anto diterima disalah satu kampus swasta,kampus yang memang diinginkan oleh anto untuk mengejar mimpinya.bisa kita bayangkan kalo kita diterima dikampus yang memang kita idamkan,pastilah kita sangat bahagia dan dari sinilah berawal petualangan anto menjadi anak kos.

Hari pertama anto dikos sama seperti kebanyakan anak lain yang baru belajar hidup mandiri,kadang terlihat pemalu,canggung dan lebih suka menyendiri (maklum baru kenal dunia luar selain dunia yang ia lakoni sebelumnya.hahaha).Tapi semua itu tidak berlangsung lama,karena ternyata anto seorang yang mempunyai jiwa sosial yang cukup tinggi dari kebanyakan anak-anak lainnya ,dia dengan mudah akrab dan bergaul dengan seniornya dikost,dan karena jiwa sosial yang tinggi itulah yang membuat anto kelihatan lebih terkenal dari teman teman kosnya yang lain.

pada suatu saat anto datang dari jalan-jalan dan mendadak kekamar temennya dan kemudian terjadilah percakapan

Hariie   : dari mana to??

Anto     : dari jalan bang (sambil mengusap lengannya)

Hariie   : wow baru bikin tatto ya??

Anto    : ya bang, oh ya minta air panasnya bang buat nyuci bekas tattonya


Sabtu, 27 November 2010

setelah ini... apalagi...

 
sudah selarut ini... dan pikirku masih melayang,imajinasiku akan indahnya hari ini belum kutemukan dan itu membuatku sangat terpuruk..

secangkir kopi dan sebatang rokok yang belum juga menyala kuputuskan menjadi teman untuk menguak semua misteri hari ini.

aku coba kembali mengulang hari ini dari alam pikir ku,menggali dan trus mengali,mecari dan masih mencari..

semoga semua bisa ku atasi...

Jumat, 19 November 2010

Pancasila di Tengah Peradaban Dunia: Perspektif Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural

Azyumardi Azra

Direktur Sekolah PascaSarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak Januari 2007 dan juga Deputi Kesra pada Sekretariat Wakil Presiden RI sejak Mei 2007.
 
Gagasan saya tentang rejuvenasi Pancasila sebagai faktor integratif dan salah satu fundamen wawasan kebangsaan dan identitas nasional negara-bangsa Indonesia mendapat pengayaan penting dari berbagai kalangan publik, khususnya melalui Tajuk Rencana Kompas maupun artikel Prof. Musa Asy’arie (lihat Kompas 9, 11, 12 Juni 2004). Saya sendiri telah meresponi tanggapan publik tersebut dalam Harian Kompas 17 Juni 2004.

Makalah ini merupakan elaborasi lebih lanjut tentang relevansi Pancasila sebagai dasar wawasan kebangsaan dan identitas nasional Indonesia di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negara-bangsa Indonesia dan kepemimpinan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Dan tidak kurang pentingnya, makalah ini juga melihat Pancasila dalam kaitan dengan tantangan krisis identitas budaya, dan akhirnya mencoba menawarkan penguatan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika melalui perspektif multikulturalisme dan pendidikan multikultural.
Rejuvenasi Pancasila
Apakah “ideologi��? semacam Pancasila masih relevan dalam masa globalisasi dan demokratisasi yang nyaris tanpa batas dewasa ini? Dalam hiruk-pikuk politik yang masih berlangsung hingga kini, pertanyaan seperti ini mungkin terlalu akademis untuk diajukan kepada para politisi; namun pertanyaan itu sering diajukan audiens kepada saya dalam berbagai diskusi dan seminar tentang posisi dan relevansi Pancasila dalam Indonesia yang lebih demokratis; Indonesia yang lebih bebas dalam berbagai segi kehidupan.

Pertanyaan tentang relevansi ideologi umumnya dalam dunia yang berubah cepat sebenarnya tidak terlalu baru. Sejak akhir 1960, mulai muncul kalangan yang mulai mempertanyakan relevansi ideologi baik dalam konteks negara-bangsa tertentu maupun dalam tataran internasional. Pemikir seperti Daniel Bell pada akhir 1060an telah berbicara tentang “the end of ideology��?. Tetapi perang dingin yang terus meningkat antara Blok Barat dengan ideologi kapitalisme dengan Blok Timur dengan ideologi sosialisme-komunisme menunjukkan bahwa ideologi tetapi relevan dalam kancah politik, ekonomi dan lain-lain.


Kamis, 18 November 2010

Tersenyumlah

"orang akan memandang anda lebih indah ketika anda tersenyum"

Senin, 15 November 2010

Eksistensi Lembaga Negara Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

I. PENDAHULUAN

Berbicara mengenai lembaga negara berarti berbicara mengenai alat kelengkapan yang ada dalam sebuah negara. Alat kelengkapan negara berdasarkan teori klasik hukum negara meliputi, kekuasaan eksekutif, dalam hal ini bisa Presiden atau Perdana Menteri atau Raja; kekuasaan legislatif, dalam hal ini bisa disebut parlemen atau dengan nama lain seperti Dewan Perwakilan Rakyat; dan kekuasaan yudikatif seperti Mahkamah Agung atau supreme court. Setiap alat kelengkapan negara tersebut bisa memiliki organ-organ lain untuk membantu melaksanakan fungsinya.
Kekuasaan eksekutif, misalnya, dibantu oleh menteri-menteri yang biasanya memiliki suatu depertemen tertentu. Meskipun demikian, dalam kenyataanya, tipe-tipe lembaga yang diadopsi setiap negara berbeda-beda sesuai dengan perkembangan sejarah politik kenegaraan dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam negara yang bersangkutan. Secara konseptual, tujuan diadakan lembaga-lembaga negara atau alat kelengkapan negara adalah selain untuk menjalankan fungsi negara, juga untuk menjalankan fungsi pemerintahan secara aktual.
Lembaga-lembaga negara harus membentuk suatu kesatuan proses yang satu sama lain saling berhubungan dalam rangka penyelengaraan fungsi negara atau istilah yang digunakan Prof. Sri Soemantri adalah actual governmental process. Jadi, meskipun dalam praktiknya tipe lembaga-lembaga negara yang diadopsi setiap negara bisa berbeda, secara konsep, lembaga-lembaga tersebut harus bekerja dan memiliki relasi sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan untuk merealisasikan secara praktis fungsi negara dan ideologis mewujudkan tujuan negara jangka panjang.
Dalam negara hukum yang demokratik, hubungan antara infra struktur politik  (Socio  Political  Sphere)  selaku  pemilik  kedaulatan  (Political Sovereignty) dengan supra struktur politik (Governmental Political Sphere) sebagai pemegang atau pelaku kedaulatan rakyat menurut hukum (Legal Sovereignty),  terdapat  hubungan  yang  saling  menentukan  dan  saling mempengaruhi. Oleh karena itu, hubungan antar dua komponen struktur ketatanegaraan tersebut ditentukan dalam UUD, terutama supra struktur politik telah ditentukan satu sistem, bagaimana kedaulatan rakyat sebagai dasar kekuasaan tertinggi negara itu dibagi-bagi dan dilaksanakan oleh lembaga- lembaga negara.
Untuk memahami kedudukan dan hubungan lembaga negara terlebih dahulu harus memahami konteks sejarah dan suasana politik yang terjadi. Kedudukan lembaga negara dapat dilihat dari konteks negara dan konteks masyarakat. Lembaga negara dalam konteks negara dapat diketahui melalui sistem  dan mekanisme  penyelenggaraan  pemerintahan  yang  berlaku sebagaimana yang dianut dalam UUD NRI 1945. dalam konteks masyarakat dapat dilihat dari kerja Infra Struktur Politik masyarakat yang meliputi partai politik (political party), golongan kepentingan (interest group), golongan penekan (pressure group), alat komunikasi politik (media political communication), dan tokoh politik (political figure) dalam mempengaruhi dan mengarahkan kebijakan- kebijakan penyelenggara negara.